Permainan Edukasi Internet Sehat Relawan TIK Jember

0
44

Rtikjember.or.idJEMBER, Anak buruh migran kerap dikirimi gawai yang bagus oleh orang tuanya dari luar negeri. Sayangnya, mereka belum bisa menggunakan gawai dengan cerdas, termasuk orang di  sekelilingnya. Ada kekhawatiran disalahgunakan.

“Mak, saya dapat buku,” kata Diana memberikan buku yang didapat dari bermain ular tangga internet sehat di lapangan polo lumpur Komunitas Tanoker Minggu (25/3). Setelah itu, anak tersebut kembali ke tempat bermain bersama temannya.

“Empat loncatan, satu, dua, tiga, empat,” ucap Silviatul Hasanah, siswi kelas V SDN Sumberlesung 1 Kecamatan Ledokombo sambil melompat, setelah itu membacakan kalimat yang terdapat di bawahnya. Lapor segera kepada guru atau orang tua jika tahu atau terkena cyberbullly.

“Jadi kalau adek-adek yang ada yang di-bully di media sosial, harus segera melaporkan pada orang tua atau gurunya ya,” kata Zainul Hasan menjelaskan makna dari masing-masing kotak di ular tangga tersebut.  Kotak ular tangga tersebut diisi dengan kalimat cara cerdas bermedia sosial.

“Batasi penggunaan internet dan lakukan aktivitas bersama, seperti olahraga,” tambah Nurul Ayuni usai melompat. Zainul pun menjelaskan makna dari kata-kata tersebut, yakni tidak boleh berlebihan menggunakan internet, harus bersosialisasi dengan teman-temannya.

Ketika melempar dadu berikutnya, Nuril Ayuni yang juga siswi SDN V Sumberlesung 1 mendapati kotak dengan pesan negatif. Yakni klik sembarangan banner di web, akhirnya dia turun tangga dan mendapati kalimat, banner web yang tidak jelas bisa membawa kita ke situs negatif.

Bila dadu dapat kotak yang memberikan pesan positif, maka akan naik tangga. Namun sebaliknya, bila mendapati kotak dengan pesan negatif, akan turun. Misal, mendapati kotak dengan tulisan orang tua yang bijak, dampingi anak di internet, maka akan naik tangga. Namun bila mendapati kotak bertemu dengan orang baru kenal di sosmed, akan turun ke kota bisa jadi orang yang baru dikenal adalah penjahat.

Anak-anak merasa ceria dengan permainan tersebut. Bagi mereka yang menyelesaikan mendapat hadiah buku tulis. Tak heran, mereka berlomba-lomba bermain ular tangga yang digagas oleh  Relawan TIK Jember.

Para relawan itu melatih anak-anak Komunitas Tanoker agar belajar internet secara sehat. Tidak mudah terpengaruh dengan konten negatif yang ada di media sosial. Mengajari anak-anak agar menjadi pengguna internet yang bijak.

Apalagi, anak-anak tersebut merupakan anak yang ditinggal orang tuanya pergi bekerja ke luar negeri. Sedangkan orang tuanya, mengirimkan gawai untuk putra-putrinya. “Padahal orang-orang di sekitarnya belum jadi smart user,” tambah Ulil Albab, ketua Relawan TIK Jember.

Menurut dia, anak yang menggunakan gawai seringkali tidak diawasi oleh orang tuanya. Sebab, pengguna internet masih belum pada tahap smart user, namun gawainya yang cerdas. Padahal, ancamannya jelas, berupa pornografi, hoax, pedofilia, dan lainnya.

DI Jember, kata Ulil, mayoritas anak usia produktif sudah menggunakan gawai. Bila tidak diajari cerdas berinternet, khawatir terjerumus pada hal yang tidak diinginkan. “Setiap kami sosialisasi ke sekolah, 80 persen sudah punya gawai,” akunya.

Untuk itu, relawan TIK mengajak para guru agar peduli ketika siswanya menggunakan internet. Guru memiliki peran penting untuk mencegah anak dari membuka situs negatif. “Kami melakukan menyebarkan Internet cerdas kreatif dan produktif,” tambah mahasiswa semester VI Universitas Muhammadiyah Jember tersebut.

Tak hanya itu, orang tua juga dilibatkan agar juga mengawasi anaknya. Sebab, beberapa anak  di Ledokombo melihat gawai ibunya saat tidak dipakai. Bahkan, melihat pemberitahuan facebook saat berbunyi. “Saya ga punya facebook, tapi lihat facebook ibu,” aku Silviatul Hasanah.

Untuk itulah, orang tua juga dilatih agar bisa mendampingi anaknya. Relawan TIK Jember juga hendak membuat aplikasi untuk memfilter konten gawai yang dipegang anak-anak. Sehingga bisa dipantau dan tidak menyalahgunakan.

Suporahardjo, pendiri Komunitas Tanoker menambahkan, Tanoker menyediakan ruang bagi anak  desa, terutama anak buruh migran berbaur. Harapannya, anak-anak yang ditinggal orang tua itu menjadi kepedulian bersama, baik tokoh masyarakat, guru dan warga sekitar.

Mereka yang  ditinggalkan orang tuanya dalam masa tumbuh kembang. Perkembangan dari sisi psikologi, budaya dan lainnya diharapkan bisa terpenuhi. Tanoker hadir agar bisa menjadi wadah bagi mereka untuk berkembang.

Selama ini, pengasuhan anak buruh migran dilakukan oleh keluarga terdekat. Mulai dari kakek-nenek, paman dan lainnya. Agar pendidikan bagi mereka maksimal, Tanoker membentuk sekolah bok-ebok, sekolah bapak-bapak, dan sekolah kakek sebagai wadah parenting.

Sekarang, tambah Ciciek Farha, istri dari Suporahardjo yang juga pendiri Komunitas Tanoker, kecanggihan teknologi sudah mampu memberikan solusi agar orang tua bisa mengasuh anaknya dari luar negeri. “Tanoker sedang menggodok pengasuhan anak dari luar negeri,” katanya.

Yakni mencari cara agar komunikasi antara orang tua yang berada di luar negeri dengan anaknya bisa terjalin efektif. Komunikasi yang efektif dan bisa diterima dengan baik oleh orang tua dan anak. Meskipun orang tua di luar negeri dibatasi dalam menggunakan gawai.

Komunikasi efektif itu mampu menyembuhkan luka batin akibat hubungan buruk. Syarat  komunikasi efektif meliputi  rasa empati, yakni  mengerti dulu daripada minta dimengerti. Kemudian, tidak membantah dan tidak menyalahkan serta fokus pada masalah.

“Dulu belum terpikirkan, padahal sangat penting, yakni hubungan anak dengan orang tua,” paparnya. Padahal sangat penting karena sudah didukung dengan kemajuan teknologi informasi. Bahkan hampir semua masyarakat sudah memiliki handphone. “Tapi riset kami, banyak yang tidak efektif,” tuturnya.

Ciciek berharap agar jarak jauh antara anak buruh migran dan orang tua  tidak memperburuk kualitas pengembangan anak. Sebab, banyak yang mengirimkan uang untuk anaknya, tetapi dimanfaatkan dengan kegiatan yang tidak baik. Hal itu bisa menjadikan anak  manja.

“Anak dihubungkan dengan guru ngaji, guru sekolah dan lainnya,” tuturnya.  Sebab masalah yang terjadi pada anak tidak hanya bisa diselesaikan oleh pengasuhnya. Tetapi membutuhkan semua orang sehingga bisa melakukan kontrol. Termasuk mendatangkan relawan TIK untuk melatih anak berinternet dengan bijak. (jr/gus/das/JPR)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here