Peringati Hari Santri Se-Nusantara dan Dunia

0
202

Rtikjember.or.id – Surabaya, Hari santri merupakan hari di mana adanya sebuah momen bersejarah 72 tahun yang bahwa Resolusi Jihad adalah fakta sejarah dalam merebut kemerdekaan. Sudah sepatutnya momen tersebut dinisbatkan sebagai hari sejarah nasional, perjuangan para ulama dan santri NU serta semangat juang arek-arek suroboyo pada masa itu. Tahun ini adalah tahun ke tiga sejak ditetapkannya Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 bahwa tanggal 22 Oktober merupakan Hari Santri. Hal tersebut merupakan pengakuan negara atas jasa para ulama dan santri dalam perjuangan merebut, mengawal, mempertahankan dan mengisi kemerdekaan. Pengakuan akan hal itu tidak lepas atas berkat komando Hadratus Syeikh KH. Hasyim Asy’ari, Rais Akbar Nahdlatul Ulama.  Maka dari itu Pengurus Besar Nahdlatul Ulama menginstruksikan seluruh Keluarga Besar Nahdlatul Ulama di manapun berada dan seluruh warga Indonesia untuk memperingati hari santri pada tanggal 22 oktober. Tahun ini juga merupakan tahun ke tiga peringatan hari santri seluruh nusantara bahkan dunia.

Berperang menolak dan melawan penjajah itoe fardloe ‘ain (jang haroes dikerdjakan oleh tiap-tiap orang islam, laki-laki, perempuan, anak-anak bersenjata ataoe tidak) bagi jang berada dalam djarak lingkaran 94 km dari tempat masoek dan kedoedoekan moesoeh. Bagi orang-orang jang berada di loear djarak lingkaran tadi, kewajiban itoe djadi fardloe kifayah(jang coekoep kalauoe dikerdjakan sebagian sadja”

Di atas merupakan teks pidato Hadratus Syeikh KH. Hasyim Asy’ari. Tanpa adanya Resolusi Jihad NU dan pidato yang menggetrakan di atas tersebut, tidak akan pernah ada yang namanya peristiwa 10 november 1945 kala itu yang kemudian disebut sebagai Hari Pahlawan dan diperingati hingga saat ini. Kiprah santri teruji dalam mengkokohkan pilar-pikar NKRI berdasarkan pancasila yang bersendikan Bhineka Tunggal Ika. Santri berada di garda depan dalam membentengi NKRI dari berbagai ancaman (dalam selebaran surat perintah dari Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj). Dalam pidato tulisnya beliau juga mengungkapkan fakta sejarah “Pada tahun 1936, sebelum Indonesia merdeka, kaum santri menyatakan Nusantara sebagai Darus Salam. Pernyataan ini adalah legitimasi fikih berdirinya NKRI berdasarkan Pancasila. Tahun 1945, kaum santri setuju menghapuskan tujuh kata dalam Piagam Jakarta demi persatuan dan kesatuan bangsa.”

Momentum Hari Santri ini perlu ditransformasikan menjadi gerakan penguatan paham kebangsaan yang bersintesis dengan keagamaan. Islam dan ajarannya tidak bisa dilaksanakan tanpa tanah air. Mencintai tanah air mustahil tanpa berpijak pada tanah air.  Cinta dan spirit tanah air bagian dari iman “Hubbul Wathon Minal Iman”. Hari santri juga harus digunakan sebagai revitalisasi etos moral kesederhanaan, akestisme dan spiritualisme yang melekat sebagai karakter kaum santri. Selain itu, di era milenial ini hari santri juga harus  hidup di tengah dunia digital yang tidak bisa dihindari. Internet adalah bingkisan kecil dari kemajuan nalar yang menghubungkan manusia sejagat dalam dunia maya. Santri perlu memperalat teknologi informasi sebagai media dakwah dan sarana menyebar kebaikan serta kemaslahatan dan mereduksi pengguna yang tidak sejalan dengan upaya untuk menjaga agama, jiwa, nalar, harta, keluarga dan martabat seseorang. Sebagaimana kaidah fikih al-muhafadhah ala al-qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah. Kaidah tersebut senantiasa relevan sebagai bekal kaum santri menghadapi tantangan zaman yang terus dinamis.

Sumber  http://harisantri.com/seruan-pbnu-memperingati-hari-santri-se-nusantara-dan-dunia/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here