Dunia Nyata dan Dunia Daring Itu Sama

0
16

Rtikjember.or.idJEMBER, Eforia masyarakat Indonesia dengan adanya media sosial sudah kelewatan, pasalnya mereka masih beranggapan bahwa dapat melakukan apapun di dunia daring tersebut semau mereka. Faktor inilah yang menjadi trigger dalam diskusi santai membahas keamanan data pribadi bertajuk ‘ngabubur-IT 2019 Jember’ yang dilaksanakan di salah satu hotel di Jember, Sabtu 11 Mei 2019.

Dalam diskusi ini menghadirkan beberapa narasumber di antaranya :

1. Tenaga Ahli Menteri Bidang Literasi Digital dan Tata Kelola Internet, Kemkominfo ;
Donny B.U.
2. Kordinator Program ICT Watch ; Indriyatno Banyumurti
3. Dosen Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah Jember ; Ulya Anisatur R.

Dalam diskusi tersebut, Indriyatno Banyumurti menilai bahwa perilaku masyarakat Indonesia di dunia daring masih tidak memikirkan mengenai dampak yang akan ditimbulkan. Perilaku itu pun disimpulkan oleh Banyumurti bahwa masyarakat Indonesia masih menganggap dunia daring berbeda dengan dunia nyata.

“Padahal dunia daring dan dunia nyata itu sama, nah ini yang perlu disadari oleh masyarakat kita. Apapun yang kita lakukan dunia daring mempunyai dampak bagi diri kita di dunia nyata,” kata Banyumurti dalam pemaparannya.

Dia pun mencontohkan seperti perilaku menyebarkan data pribadi di dunia daring itu sangat massif dilakukan oleh oranngnya sendiri.

“Berapa banyak data pribadi kita telah terekspos di media sosial dan itu dilakukan oleh kita sendiri, misalnya kita menuliskan di facebook seperti mengisi alamat kita, tanggal lahir kita, nomer telepon bahkan sampai film kesukaan kita,” jelas Banyumurti.

Padahal ketika di dunia nyata, lanjut Banyumurti, apabila ada seseorang menanyakan data-data tersebut itu belum tentu akan kita berikan, namun di media sosial data-data tersebut diumbar dengan begitu saja.

“Pernahkah memikirkan akibatnya sebelum memposting data tersebut? Bisa saja ada orang yang ingin mengetahui seluk-beluk kehidupan kita dan dengan mudahnya mereka tinggal melihat histori kita di media sosial, iya kan? Nah kalau tujuan mereka buruk kepada kita bagaimana. Nah ini yang perlu kita sadari dan mulai dari sekarang mari kita tingkatkan awareness kita dalam bermedia sosial,” pesan Banyumurti.

Di sisi lain, dewasa ini sudah banyak Perusahaan yang juga meminta data media sosial sebagai preferensi mereka dalam merekrut pegawai. Media sosial tersebut akan diteliti oleh Perusahaan untuk mengetahui seperti apa perilaku kita, karena perilaku di media sosial tidak jauh beda dengan perilaku sebenarnya.

“Jejak digital di media sosial itu sudah menjadi acuan Perusahaan dalam merekrut pegawai. Mengapa, karena apa yang dilakukan di media sosial itu menggambarkan seperti apa karakternya. Nah ini pentingnya kenapa kita harus menjaga juga perilaku kita di media sosial,” tegasnya.

Banyumurti pun meminta masyarakat untuk merubah perilaku di media sosial dengan cara memikirkan terlebih dahulu apa dampaknya terhadap apa yang akan kita posting.

Sementara itu, Ulya Anisatur R. seorang dosen di Universitas Muhammadiyah Jember menggambarkan kondisi masyarakat Kabupaten Jember di media sosial. Berdasarkan penelitiannya, dia menyebut bahwa ciri khas masyarakat Jember yang merupakan masyarakat agamis memicu perilaku di media sosial.

“Kalau melihat kondisi yang ada di Jember, ada beberapa temuan dimana
pertama berhubungan dengan kultur masyarakat di Jember yang identik dengan orang yang agamis, sehingga setiap kali ada postingan yang dibalut dengan agama atau di belakangnya ada embel-embel agama tertentu, orang-orang Jember akan langsung tertarik untuk menyebarkan berita tersebut,” jelas Ulya yang juga menjabat Ketua Bidang Sosial Edukasi di Relawan TIK Kabupaten Jember.

Ulya mencontohkan pada bulan februari 2019 lalu, ada postingan video yang menggambarkan ibu-ibu sedang berjoget di atas karpet sajadah Musalla dan sangat viral bahkan di Jember pun postingan tersebut mendapatkan cibiran dari masyarakat.

Padahal yang terjadi adalah empat orang ibu-ibu itu berjoget di atas karpet sajadah yang telah rusak atau tidak layak digunakan sehingga oleh petugas musalla dipotong-potong untuk digunakan sebagai keset, pengganjal kaca juga karena musalla dalam kondisi sedang direnovasi, dan saat ada kegiatan senam ibu-ibu, maka petugas musalla potongan karpet sajadah yang telah tidak layak pakai tersebut dijadikan alas di pentas.

“Nah inilah juga kemirisan kita bahwa masyarakat belum mencari sumber kebenarannya sebelum mereka berkomentar, dan kondisi ini terjadi pada masyarakat kita yang ketika melihat judul saja langsung berkomentar tanpa mengecek dulu isi berita, ini yang keliru,” papar Ulya.

Ulya pun meminta masyarakat untuk merubah perilaku tersebut, dengan mengecek dulu kebenarannya, membaca dulu isi kontennya sebelum berkomentar, baru jika konten tersebut dinilai baik dipersilahkan untuk disebarkan.

Donny BU dari Kemenkominfo dalam diskusi lebih menekankan pada aspek kehadiran pemerintah dalam menjamin perlindungan data pribadi. Menurutnya pada UUD 1945, setiap Warga Negara Indonesia berhak atas perlindungan diri pribadi, termasuk juga perlindungan data pribadi di dunia daring.

Dia mencontohkan bahwa masih banyak kejadian semena-mena dari pemanfaatan teknologi, seperti ketika menginstall suatu aplikasi di smartphone, aplikasi tersebut meminta akses ke sejumlah data di ponsel kita. Seperti meminta diperbolehkan mengakses kontak, mengakses lokasi bahkan data pada penyimpanan di ponsel pintar.

“Negara sedang berjuang untuk menfinalkan UU Perlindungan Data Pribadi, kenapa? supaya tidak semua orang sembarangan ngumpulin data kita kemudian disimpan. Kalau itu bocor dan disebarkan akan menimbulkan berbagai potensi aktivitas kriminal di dunia siber, diri kita dipantau terus tanpa kita sadari jika data pribadi kita bocor,” jelas Donny.

Namun demikian, upaya Pemerintah tidak berhasil jika masyarakat masih tidak peduli dengan kondisi ini, juga pengetahuan masyarakat belum mumpuni di tengah cepatnya perkembangan digital oleh karena itu Pemerintah  turut mendukung program Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat seperti sekarang ini.

Bagian Humas
Relawan Teknologi, Informasi dan Komunikasi
Kabupaten Jember

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here