Buku dan Keluarga Kecilku

0
114

 

Sejak awal pernikahan, tujuan belanja menjadi pembeda yang jelas bagi kami berdua. Beruntungnya saya berhasil meracuni ALbirru untuk juga menyukai toko buku.

Walaupun jadi puyeng sendiri. ALbirru gak mau diajak ke stand diskonan yang biasa diletakkan di halaman sebuah toko buku. Maunya langsung menuju ke lantai dua. Tahu sendirilah harga buku cerita untuk anak-anak.

Bundo selalu aras-arasen kalau diajak ke toko buku. Sama seperti saya yang aras-arasen kalau diajak ke toko pakaian/sepatu.

Kontras sekali memang.

Meracuni Bundo agar doyan baca buku itu susah. Bagaimana tidak, trik saya dengan meletakkan buku sembarangan di beberapa tempat seperti meja atau kasur pun gagal. Karena “bersih-bersih” itu seperti nama tengahnya. Melekat erat.

Pidi Baiq melalui Dilan yang saya pinjam dari Fevtri rupanya menjadi semacam mukjizat. Buku yang saya letakkan di meja itu tiba-tiba dibacanya. Bagus katanya. Padahal saya sendiri belum selesai separuhpun. “ya sudah, baca saja”, sahut saya.

Dan tak sampai dua hari buku itu sudah tuntas dibacanya. Untung seseorang yang tidak suka baca buku sih itu sudah prestasi luar biasa. Saya bilang kalau buku itu ada buku lanjutannya. Dilan#2 dan Milea. Bundo tiba-tiba minta diantar ke toko buku buat beli dua buku itu sekaligus. Pakai uangnya sendiri lagi. Yo budal wae kan.

Dua buah buku yang saya pilih di stand diskonan bersama Dilan2 dan Milea ditandaskannya dalam waktu tak sampai satu minggu.

Dan dia minta dipilihkan buku-buku ringan serupa dari koleksi buku saya yang lama yang tak pernah disentuhnya kecuali saat bersih-bersih.

Di foto ini buku yang saya susun mendatar adalah judul buku yang sudah dibacanya dalam sebulan terakhir.

Saya bersyukur bahwa saya berhasil meracuni keluarga saya untuk doyan baca buku. Setidaknya tujuan belanja kami menjadi sama. Tapi untuk ke toko pakaian,… namanya juga perempuan ya. Dimaklumkan saja.

Selamat Hari Buku Nasional. Red. Cak Oyong (DPO)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here